Penyuluhan Kesehatan terkait dengan "Diet untuk Pasien dengan Infeksi Paru"
Lihat AgendaLaporan ini menyajikan ringkasan hasil validasi capaian Indikator Nasional Mutu (INM) yang dihimpun dari bulan Januari sampai dengan Juli 2026. Validasi dilakukan dengan membandingkan data hasil pengumpulan oleh PIC (Pengumpul Data I) dengan hasil pemantauan ulang oleh Validator (Pengumpul Data II). Seluruh data pada periode ini dinyatakan VALID karena nilai kesesuaian/perbandingan berada di atas ambang batas minimal ≥ 90%.
Baca Selengkapnyaerdasarkan hasil pemantauan Indikator Nasional Mutu (INM) Triwulan III Tahun 2025 yang meliputi periode Juli, Agustus, dan September, secara umum capaian mutu pelayanan di RSUD Ahmad Syafii Maarif menunjukkan kinerja yang baik dengan sebagian besar indikator mampu mempertahankan capaian di atas 90%. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa indikator yang memerlukan perhatian khusus karena belum mencapai target yang telah ditetapkan. Indikator Kepatuhan Kebersihan Tangan menunjukkan capaian yang relatif stabil, yaitu 93,60% pada Juli, sedikit menurun menjadi 92,40% pada Agustus, kemudian meningkat kembali menjadi 93,60% pada September. Hasil ini menunjukkan bahwa kepatuhan petugas terhadap pelaksanaan kebersihan tangan tetap terjaga, meskipun perlu terus ditingkatkan agar mencapai target optimal. Pada indikator Kepatuhan Penggunaan APD, capaian berada pada angka yang sangat baik, yaitu 99,10% pada Juli, 99,00% pada Agustus, dan 98,00% pada September. Tingginya tingkat kepatuhan ini mencerminkan komitmen tenaga kesehatan dalam menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi di lingkungan rumah sakit. Indikator Kepatuhan Identifikasi Pasien juga menunjukkan hasil yang sangat baik dengan capaian 98,05% pada Juli, meningkat menjadi 98,90% pada Agustus, dan mencapai 99,00% pada September. Hal ini menunjukkan bahwa proses identifikasi pasien telah dilaksanakan secara konsisten sesuai standar keselamatan pasien. Pada indikator Waktu Tanggap Operasi Seksio Emergensi, terlihat adanya peningkatan yang cukup signifikan. Capaian meningkat dari 60,00% pada Juli menjadi 83,30% pada Agustus, meskipun sedikit menurun menjadi 75,00% pada September. Walaupun mengalami perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya, indikator ini masih memerlukan evaluasi untuk mencapai target pelayanan yang diharapkan. Indikator Waktu Tunggu Rawat Jalan menunjukkan tren peningkatan secara bertahap, yaitu dari 49,30% pada Juli, meningkat menjadi 58,00% pada Agustus, kemudian 56,80% pada September. Capaian ini menunjukkan adanya upaya perbaikan proses pelayanan, namun masih diperlukan strategi lebih lanjut untuk mengurangi waktu tunggu pasien. Pada indikator Penundaan Operasi Elektif, capaian berada pada angka 7,40% pada Juli, 7,00% pada Agustus, dan 7,62% pada September. Nilai tersebut masih berada di atas target yang diharapkan sehingga diperlukan evaluasi terhadap penyebab penundaan operasi, baik dari aspek kesiapan pasien, sumber daya manusia, maupun sarana pendukung. Indikator Kepatuhan Waktu Visite Dokter menunjukkan kecenderungan meningkat dari 92,70% pada Juli, 91,90% pada Agustus, hingga 94,60% pada September. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan visite dokter semakin konsisten sesuai jadwal pelayanan. Indikator Pelaporan Hasil Kritis Laboratorium berhasil mempertahankan capaian 100% selama bulan Juli hingga September. Capaian ini menunjukkan bahwa seluruh hasil laboratorium yang bersifat kritis telah dilaporkan tepat waktu kepada dokter penanggung jawab pasien sesuai standar keselamatan pasien. Pada indikator Kepatuhan Penggunaan Formularium Nasional, capaian mengalami sedikit penurunan dari 91,87% pada Juli, menjadi 88,25% pada Agustus, dan 88,25% pada September. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kepatuhan tenaga medis terhadap penggunaan obat sesuai Formularium Nasional. Indikator Kepatuhan terhadap Alur Klinis (Clinical Pathway) menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Capaian meningkat dari 88,90% pada Juli, menjadi 86,00% pada Agustus, dan berhasil mencapai 100% pada September. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan kepatuhan dalam penerapan clinical pathway pada pelayanan pasien. Indikator Kepatuhan Upaya Pencegahan Risiko Jatuh menunjukkan capaian yang stabil dengan nilai 94,50% pada Juli, 93,60% pada Agustus, dan 95,40% pada September. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan upaya pencegahan pasien jatuh telah berjalan dengan baik dan konsisten. Pada indikator Kecepatan Waktu Tanggap Komplain, capaian meningkat secara signifikan dari 83,00% pada Juli, 83,00% pada Agustus, hingga mencapai 100% pada September. Peningkatan ini mencerminkan semakin baiknya respons rumah sakit dalam menangani keluhan pasien dan keluarga. Sementara itu, Kepuasan Pasien menunjukkan capaian yang fluktuatif, yaitu 96,20% pada Juli, menurun menjadi 61,40% pada Agustus, kemudian meningkat kembali menjadi 88,90% pada September. Penurunan pada bulan Agustus perlu menjadi perhatian melalui evaluasi hasil survei kepuasan, identifikasi faktor penyebab, serta penyusunan rencana perbaikan pelayanan agar kepuasan pasien dapat kembali meningkat secara berkelanjutan. Kesimpulan Secara keseluruhan, capaian Indikator Nasional Mutu Triwulan III Tahun 2025 menunjukkan bahwa sebagian besar indikator telah berada pada kategori baik, terutama Pelaporan Hasil Kritis Laboratorium, Kepatuhan Penggunaan APD, Kepatuhan Identifikasi Pasien, Kepatuhan Kebersihan Tangan, serta Kepatuhan Upaya Pencegahan Risiko Jatuh yang mampu mempertahankan capaian tinggi selama triwulan. Namun demikian, beberapa indikator masih memerlukan perhatian dan tindak lanjut, antara lain Waktu Tanggap Operasi Seksio Emergensi, Waktu Tunggu Rawat Jalan, Penundaan Operasi Elektif, Kepatuhan Penggunaan Formularium Nasional, serta Kepuasan Pasien yang menunjukkan penurunan pada bulan Agustus. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis akar penyebab (Root Cause Analysis), penyusunan rencana tindak lanjut (RTL), penguatan koordinasi antarunit, serta monitoring dan evaluasi secara berkala agar seluruh indikator dapat mencapai target yang telah ditetapkan dan mutu pelayanan di RSUD Ahmad Syafii Maarif terus meningkat secara berkesinambungan.
Baca SelengkapnyaBerdasarkan hasil monitoring Indikator Nasional Mutu (INM) Triwulan II Tahun 2025 yang meliputi periode April, Mei, dan Juni, secara umum capaian indikator mutu di RSUD Ahmad Syafii Maarif menunjukkan kinerja yang baik dan relatif stabil. Sebagian besar indikator berhasil mempertahankan capaian di atas 90%, bahkan beberapa indikator telah mencapai 100%, yang mencerminkan komitmen rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang bermutu, aman, efektif, serta berorientasi pada keselamatan pasien. Pada indikator Kepatuhan Kebersihan Tangan, capaian berada pada 91,80% pada April, 91,40% pada Mei, dan 91,40% pada Juni. Hasil ini menunjukkan kepatuhan petugas dalam menerapkan hand hygiene tetap konsisten, meskipun masih diperlukan upaya peningkatan agar mencapai target yang ditetapkan. Indikator Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) menunjukkan kinerja yang sangat baik dengan capaian 98,20% pada April, 97,30% pada Mei, dan 97,27% pada Juni. Nilai tersebut mencerminkan tingginya kepatuhan tenaga kesehatan dalam penggunaan APD sebagai bagian dari upaya pencegahan infeksi. Untuk indikator Kepatuhan Identifikasi Pasien, capaian tetap tinggi dan stabil yaitu 98,25% pada April, 98,13% pada Mei, dan 98,34% pada Juni. Hal ini menunjukkan bahwa proses identifikasi pasien telah dilaksanakan secara konsisten sesuai standar keselamatan pasien. Indikator Waktu Tanggap Operasi Seksio Emergensi menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan. Pada bulan April capaian sebesar 25%, meningkat menjadi 37,50% pada Mei, dan kembali meningkat menjadi 60% pada Juni. Walaupun menunjukkan perbaikan, indikator ini masih belum mencapai target sehingga perlu dilakukan evaluasi terhadap kesiapan tim operasi, ketersediaan ruang operasi, serta koordinasi antarunit pelayanan. Pada indikator Waktu Tunggu Rawat Jalan, capaian mengalami peningkatan bertahap dari 44,60% pada April, menjadi 42,14% pada Mei, kemudian meningkat menjadi 51,15% pada Juni. Meskipun mulai menunjukkan perbaikan, indikator ini masih menjadi salah satu fokus utama yang memerlukan tindak lanjut melalui optimalisasi alur pelayanan, penjadwalan dokter, serta peningkatan efisiensi proses pelayanan pasien. Indikator Penundaan Operasi Elektif menunjukkan angka 5,90% pada April, 6,70% pada Mei, dan 7,00% pada Juni. Angka ini masih berada di atas target yang ditetapkan sehingga diperlukan evaluasi terhadap penyebab penundaan, seperti kesiapan pasien, kelengkapan administrasi, maupun ketersediaan fasilitas dan sumber daya. Pada indikator Kepatuhan Waktu Visite Dokter, capaian berada pada 96,10% pada April, 96,60% pada Mei, kemudian sedikit menurun menjadi 83,40% pada Juni. Penurunan pada bulan Juni perlu menjadi perhatian agar kepatuhan visite sesuai jadwal dapat kembali ditingkatkan. Indikator Pelaporan Hasil Kritis Laboratorium berhasil mempertahankan capaian 100% selama periode April hingga Juni. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh hasil laboratorium yang bersifat kritis telah dilaporkan kepada dokter penanggung jawab pasien secara tepat waktu sesuai standar pelayanan. Untuk indikator Kepatuhan Penggunaan Formularium Nasional, capaian mengalami sedikit penurunan dari 90% pada April, menjadi 90,60% pada Mei, dan 89,60% pada Juni. Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kepatuhan tenaga medis dalam penggunaan obat sesuai Formularium Nasional. Indikator Kepatuhan terhadap Alur Klinis (Clinical Pathway) mengalami peningkatan dari 88,90% pada April, menjadi 40% pada Mei, dan meningkat signifikan menjadi 67% pada Juni. Meskipun telah menunjukkan tren perbaikan, implementasi clinical pathway masih perlu terus diperkuat melalui monitoring dan evaluasi kepatuhan klinis di setiap unit pelayanan. Pada indikator Kepatuhan Upaya Pencegahan Risiko Jatuh, capaian tetap tinggi yaitu 95% pada April, 94,20% pada Mei, dan 96,20% pada Juni, yang menunjukkan penerapan program pencegahan pasien jatuh berjalan dengan baik. Indikator Kecepatan Waktu Tanggap Komplain menunjukkan hasil yang stabil yaitu 93,30% pada April, 93,30% pada Mei, dan 93,30% pada Juni, mencerminkan komitmen rumah sakit dalam memberikan respons yang cepat terhadap keluhan pasien dan keluarga. Sementara itu, Kepuasan Pasien juga menunjukkan hasil yang konsisten dengan capaian 96,20% selama Triwulan II Tahun 2025. Hal ini mengindikasikan bahwa secara umum pasien merasa puas terhadap mutu pelayanan yang diberikan oleh RSUD Ahmad Syafii Maarif. Kesimpulan Secara keseluruhan, capaian Indikator Nasional Mutu Triwulan II Tahun 2025 menunjukkan bahwa sebagian besar indikator telah berada pada kategori baik, terutama pada indikator Pelaporan Hasil Kritis Laboratorium, Kepatuhan Identifikasi Pasien, Kepatuhan Penggunaan APD, Kepuasan Pasien, Kecepatan Waktu Tanggap Komplain, serta Kepatuhan Upaya Pencegahan Risiko Jatuh. Namun demikian, masih terdapat beberapa indikator yang memerlukan perhatian dan tindak lanjut, yaitu Waktu Tanggap Operasi Seksio Emergensi, Waktu Tunggu Rawat Jalan, Penundaan Operasi Elektif, Kepatuhan Waktu Visite Dokter, Kepatuhan Penggunaan Formularium Nasional, dan Kepatuhan terhadap Alur Klinis (Clinical Pathway). Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan berkelanjutan melalui analisis akar masalah, penyusunan rencana tindak lanjut (RTL), monitoring berkala, serta penguatan koordinasi antarunit agar seluruh indikator dapat mencapai target yang telah ditetapkan dan mutu pelayanan rumah sakit terus meningkat.
Baca Selengkapnya